Home

Latest Post

Jika Dulang Scudetto 7 Kali Beruntun, Calciopoli? Sudah Lupa Tuh…

Jika Dulang Scudetto 7 Kali Beruntun, Calciopoli? Sudah Lupa Tuh…

Juventus baru saja melewati pencapaian prestasi ‘diri sendiri’ setelah sukses mengangkat tropi Serie A untuk keenam kalinya secara berturut. Kali terakhir Juventus juara Serie A berturut adalah kala masih televisi hitam putih. Mungkin siarannya pun belum sampai ke Indonesia, yakni pada periode 1930/1931, 1931/1932, 1932/1933, 1933/1934, 1934/1935 itu pun hanya lima kali berturut.

Pasca terbuang ke Serie B (2005/2006) karena aib calciopoli, Juventus menunjukan kebangkitan dengan menjuarai Lega Calcio pada musim 2011/2012 kala di bangku cadangan duduk sebagai pelatih Antonio Conte. Dengan skuad yang tergolong biasa saja namun mumpuni, banyak pihak menyebut scudetto tersebut adalah sebuah kebetulan. Pada musim itu Juve tak pernah sekali pun menderita kekalahan. Namun dari 38 partai yang dilakoni, sebanyak 15 pertandingan berakhir imbang dan 23 kali mencatatkan kemenangan.

Nama-nama seperti Del Piero, Buffon, Vidal, Chiellini dan Pirlo adalah faktor pembeda yang dimiliki Juventus ketimbang lawan-lawannya. Pesaing terdekat Juve, yakni AC Milan sebagai juara bertahan pada musim sebelumnya pun gagal mendekati, apalagi menyalip. Musim itu pun menjadi musim terakhir bagi Milan bisa bercokol di papan atas Serie A. Masalah finansial dituding sebagai penyebab kemunduran prestasi Milan yang mengharuskan tim hitam-merah itu melego sejumlah pemain kuncinya.

Musim selanjutnya, 2012/2013, Juventus menjawab semua cibiran bahwa scudetto musim lepas adalah sebuah kebetulan. Padahal bianconeri tak lagi diperkuat sang maestro Del Piero. Anak-anak Turin berhasil menembus 100 poin diakhir musim dan berhak mengangkat tropi untuk kali kedua sebagai penguasa Serie A. Dalam pencapaiannya musim tersebut, Juve menemukan bakat potensial Paul Pogba yang dirumorkan tak terpakai oleh Fergie di Old Trafford.

Musim 2013/2014 adalah puncak tertinggi karir Antonio Conte sebagai pelatih. Ketegasannya dalam memimpin skuad zebra, mempersembahkan scudetto tiga kali beruntun bagi Buffon (kapten sepeninggal Del Piero) dan kawan-kawan. Skuad Juve lebih mapan pada musim ini dengan bergabungnya Fernando Llorente dan Carlos Tevez. Trio BBC (Bonuci, Barzagli, Chiellini) kian solid di garis pertahanan. Tak hanya itu, Marchisio, Vidal, Pirlo dan Pogba membuat Juventus kian mentereng baik kala menyerang maupun bertahan. Jangan lupakan peran Swiss Express pada diri Stephen Lichtsteiner, yang baik dalam bertahan namun cepat dalam membantu penyerangan.

Ibarat petir di siang bolong, suka cita tropi Serie A ketiga tiba-tiba mendadak berubah menjadi kekhawatiran menyambut musim 2014/2015. Antonio Conte berselisih paham dengan pihak manajemen yang berakhir pada perpisahan. Posisi Conte pun diganti Massilimiano Allegri yang datang ke Vinovo dengan oleh-oleh pemecatan dari Ac Milan.

Kabar baiknya, Juve kemasukan tenaga baru di sektor depan dengan bergabungnya Alvaro Morata dari Real Madrid dengan klausul buy back. Namun nyatanya, kehadiran Morata tak bisa menghilangkan kekhawatiran publik Turin akan penampilan tim kesayangnnya. Faktor Allegri adalah penyebabnya.

Berlabel sebagai pelatih yang dipecat dan menggantikan Conte yang bergelimpang ‘harapan’ memang tidak mudah. Untungnya, skuad tim juara sepeninggal Conte masih utuh bertahan dan Max Allegri hanya tinggal melanjutkan dengan sedikit inovasi.

Kekhawatiran fans ternyata benar-benar hanyalah kekhawatiran. Faktanya Juve masih digdaya dan kembali merebut scudetto-nya yang keempat beruntun. Tim elit Serie A seperti Roma, Napoli, Lazio, Fiorentina atau duo Milan sama sekali bukan tandingan bagi Juve di era Allegri.

Poin penting pada musim ini, Juventus untuk pertama kali sejak tahun 2002 kembali memainkan partai final Liga Champions melawan Barcelona. Tak pernah diprediksi sebelumnya pencapaian Juve bisa melakoni partai puncak kompetisi antar klub terbaik benua biru. Inilah pembeda yang jelas antara rezim Conte dan Allegri.

Tak perlu dibahas soal Final UCL etrsebut. Semua tahu Juventus kalah atas Barcelonan dengan skor 3-1.

Singkat cerita, Juventus terus merajai Seri A di dua musim selanjutnya, yakni di musim 2015/2016 dan 2016/2017 untuk menggenapi enam tropi scudetto beruntun. Dengan gagahnya, scudetto keenam beruntun itu, Juve mengklaim diri sebagai ‘Legend’. Pertimbangannya prestasi tersebut belum pernah diraih oleh seluruh tim Serie A termasuk Si Nyonya Tua.

Memasuki musim 2017/2018, Juventus di atas kertas masih diunggulkan sebagai yang terdepan. As Roma dan Napoli yang belakangan selalu menjadi antagonis bagi Juve sepertinya akan tetap berada di belakang anak asuh Max Allegri. Terlebih, pergerakan transfer kedua klub itu tak menunjukan geliat yang mengesankan.

Roma tak seloyal dan seberuntung era Rudi Garcia dalam rekrutan pemaindemi persiapan musim depan. Pemain hebat selevel Edin Dzeko, Strootman, Nainggolan, Douglas Maicon, Mohammed Salah dan Gervinho belum tampak.

Setali tiga uang, Napoli memiliki nasib yang tak jauh berbeda dengan Serigala Roma. Belum ada pembelian pemain hebat seperti kala perdana Rafael Benitez tiba di Naples. Higuain, Callejo, Pepe Reina, Dries Mertens dan Manolo Gabbiadini didatangkan memanfaatkan uang masuk dari penjualan Edinson Cavani ke PSG.

Dari sisi pembelian pemain jelang musim 2017/2018 di atas kertas Napoli dan Roma tak bakal banya menyulitkan Juventus. Selagi peliut panjang belum dibunyikan, maka hasil pertandingan masih mungkin berubah. Bisa saja Lazio, Fiorentina atau pun Inter Milan yang justru akan menjadi batu sandungan buat Dybala dkk.

Melihat Lazio yang baru saja kehilangan El Capitano Lucas Biglia dan Blade Kaita, Fiorentina yang juga kehilangan Borjan Valero dan Bernardeschi, Intermilan yang tidak menunjukan progresifitas bahkan cenderung dipusingkan dengan pembentukan tim inti pasca pergantian pelatih, jelas kondisi tersebut pun di atas kertas menguntungkan Juventus.

Meski begitu, buian berarti Juventus terbebas dari masalah. Rumah terbelahnya soliditas tim di ruang ganti saat Final UCL lalu berdampak perginya Leonardo Bonucci ke AC Milan dan Dani Alves yang memilih memutus kontrak. Perginya Leo ke Milan jelas mengurangi kekuatan dan malah menguatkan pihak lawan.

Sebagai gambaran, Milan untuk musim ini telah belanja jor-joran demi mengerek prestasi tim.

Bisa dikatakan, Rossoneri adalah lawan yang amat bahaya bagi Juventus musim ini. Belum lagi, Li sebagai pemilik baru masih mengupayakan transfer pemain, khususnya di lini depan. Nama mentereng macam Diego Costa, Mauro Iccardi, Nicola Kalinic, Aubameyang dan Belotti masuk daftar incaran.

Skuad Milan musim ini jauh lebih baik dari musim-musim sebelumnya, khususnya setelah terakhir kali mereka juara Serie A pada musim 2010/2011.

Menarik pula menyimak pemain-pemain anyar Juventus macam, Douglas Costa, Bentancur, Bernardeschi dan Mattia De Sciglio. Dipermanenkannya Cuadrado juga menjadi nilai positif bagi Juve untuk terus menegaskan dominasinya di Italia. Trelebih trio maut Higuain, Manzdukic dan Dybala masih tetap berseragam hitam putih yang pada musim lalu menunjukan kualitas sergapan penyerangan yang menakutkan.

Kedalaman tim di poros yang meliputi Marchisio, Khedira, Pjanic, Kean, Bentancur, Sturraro, Lemina dan Rincon lebih dari cukup untuk mengarungi Serie A, Coppa Italia dan UCL. Andaikan proses transfer Emre Can dari Liverpool menjadi kenyataan, bukan tak mungkin Juve bakal kembali jadi raja, setidaknya di kancah Serie A.

Pekerjaan rumah Juve praktis hanya tentang menguatkan soliditas internal tim, harmonisasi di ruang ganti dan sesi latihan serta menjaga mentalitas bahwa pertandingan harus dimenangkan di lapangan bukan hanya di atas kertas. Menjadikan semua partai adalah final dan semua lawan memiliki potensi untuk mengalahkan mereka menjadi kunci sukses Juventus untuk mendulang sukses.