you're reading...
Dari Gelanggang

Komersialisasi Sepakbola

IMG_0180.JPG

Berbicara sepakbola tentu tak lepas dari yang namanya gol, pemain top, bursa transfer, hingga drama pertandingan. Mungkin sudah lebih dari milyaran gol tercipta sejak pertama kali sepakbola dimainkan. Dan sudah banyak pula regenerasi pesepakbola top yang silih berganti mengisi pemberitaan media massa berkat aksi mereka.

Masuknya era sepakbola modern pada tahun 2000-an ditandai dengan dibelinya klub asal London, Chelsea oleh taipan minyak asal Rusia, Roman Abramovich. Saat itu Abramovich menyodorkan uang yang tidak sedikit jumlahnya demi menyehatkan dan menguatkan finansial klub tersebut.

Tercatat dana yang dihabiskan Abramovich dalam mengendalikan Chelsea lebih dari £ 440 juta sampai Januari 2006, dari sejak kedatangannya pada juni 2003. Suntikan materi tak terbatas dari boss baru, berhasil mengangkat prestasi Chelsea sebagai runner up di musim perdana Abramovich dan menjadi juara premier league dimusim selanjutnya setelah 50 tahun.

Prestasi instan ala Abramovich di Chelsea, rupanya juga diikuti keuntungan dari sisi finansial. Inilah era baru sepakbola dimulai, yang mana finansial berpengaruh pada prestasi yang akhirnya kembali terkonversi secara finansial.

Real Madrid, Manchester City, dan Paris Saint Germain adalah klub yang menjadikan indikator finansial sebagai jalan untuk mendulang prestasi. Khusus El Real, klub tersebut sepanjang sejarahnya memang sudah terkenal akan kekayaannya. Real Madrid adalah pemilik koleksi tropi liga champions terbanyak. Sebelum hadirnya Abramovich, sebenarnya Real Madrid sudah menerapkan atau pioner dari penerapan strategi finansial sebagai pokok pendulang prestasi.

Sedangkan Manchester City dan PSG yang sama-sama dimiliki oleh raja minyak timur tengah sedang membuat guratan prestasi. PSG langsung merajai liga tertinggi se Prancis pasca kucuran dana melimpah dari Pengusaha muslim asal Qatar, Nasser Al Khelaifi. Tanpa adanya musuh yang berarti PSG sanggup menuasai Prancis dua musim berturut-turut sejak 2012-2013 dan 2013-2014. Sebelum datangnya Nasser, PSG bisa dibilang tidak lagi bertaring diera bola modern, terlebih setelah terakhir kali menjuarai ligue 1 pada tahun 1993-1994.

PSG justru kalah bersaing, oleh Lyon, Marseille, Lille, dan Bordeaux. Kegemerlapan kota Paris tak lantas mencerahkan prestasi mantan klub Ronaldinho tersebut. Bahkan pada musim 2007-2008, PSG nyaris tergegradasi dan hanya selisih tiga angka dari tim diposisi ke 18 atau zona merah.

Namun berkat kekuatan finansial ditambah dengan keindahan kota Paris, bukanlah hal sulit bagi PSG untuk mendatangkan pemain top dunia. Hasilnya pun manis, PSG merengkuh gelar demostik. Dikancah Eropa pun, duta Prancis tersebut tidaklah buruk meski belum berujung prestasi. Dua musim berturut-turut PSG berhasil melaju hingga babak perempat final sebelum akhirnya dikandaskan Barcelona dan di tahun selanjutnya oleh Chelsea.

Senasib dengan PSG, Manchester City pun demikian dalam upaya meraih gelar juara. Di era 1980-an hingga 1999, City mengalami masa penuh gejolak penurunan prestasi. Puncaknya mereka harus terdegradasi ke tingkat ketiga liga sepak bola Inggris pada tahun 1998 dan itulah sejarah kelam Manchester Biru.

Padahal jika berbicara soal sejarah era Liga Primer Inggris pertama kali diberlakukan pada 1992, City adalah salah satu pendirinya. Tetapi prestasi klub tidak kunjung membaik, bahkan City harus terdegradasi kembali ke tingkat kedua hingga 2 kali, sementara di ajang Piala FA sejak bergulirnya Liga Primer Inggris, prestasi terbaik City hanya sampai pada perempat-final.

Setelah mengakhiri liga di musim 2006-07 pada posisi empatbelas, musim berikutnya prestasi klub mulai merangkak naik. Pertengahan tahun 2007 klub resmi menjadi milik milyarder Thailand yang ambisius, yang juga adalah mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra. Tapi kepemilikan Thaksin tidak berlangsung lama. Karena dituduh kasus korupsi di negeranya, akhirnya pada September 2008 Thaksin menjual kepemilikan klub kepada pengusaha yang juga anggota keluarga kerajaan Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yaitu Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan.

Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan kemudian menghabiskan ratusan jutaan poundsterling untuk membeli pemain kelas atas agar klub menjadi kompetitif. Sukses menyusul pada tahun 2011, Manchester City lolos ke Liga Champions UEFA dan memenangkan Piala FA. Keberhasilan ini mencapai puncaknya dengan menjuarai Liga Premier Inggris 2011-12 dan juara kembali pada musim 2013-2014.

City tidaklah seberuntung PSG dalam mengkonversikan uang ke dalam bentuk titel juara. Mungkin karena persaingan domestik ligue 1 tidak sekeras premier league. Butuh waktu tiga tahun untuk Citizen meraih posisi teratas liga Inggris sejak kehadiran Sheikh Mansour.

Melihat rekor tim dengan finansial yang maha besar, nampaknya tidak mudah pula mereka untuk meraih gelar juara. Bukti sahihnya adalah Real Madrid yang selalu gagal meraih tropi liga Spanyol saat Pep Guardiola masih menukangi Barcelona. Dikancah Eropa pun meski sudah didukung para pemain bintang dan dana yang melimpah, toh El Real baru juara liga champion kembali pada musim 2013-2014. Butuh waktu 12 tahun bagi Los Galacticos untuk mengangkat tropi “telinga besar” sejak terakhir mereka mengangkatnya pada musim 2001-2002.

Jika dibandingkan dengan Atletico Madrid yang notabene tidak didukung dengan finansial yang melimpah jelas ada yang salah dengan Real Madrid. Atletico yang hanya mengandalkan kolektifitas permainan dan determinasi, ternyata sanggup menjadi juara liga Spanyol mengalahkan Barcelona dan Madrid yang secara finansial jauh lebih mapan.

Lantas seberapa gagahkah Atletico mengarungi kompetisi jika hanya bersandar pada finansial yang biasa saja? Apakah Diego Simeone sanggup menjaga pemainnya dari tawaran tim lain? Faktor keberhasilan Atleti musim kemarin adalah berkat produktifitas gol attacante mereka Diego Costa. Namun kini sang pemain hengkang diakhiry musim untuk bergabung dengan Chelsea. Tawaran 32 juta pondsterling atau 619 milyar rupiah agak sulit untuk ditolak juara La Liga tersebut.

Melihat performa haus gol Costa bersama The Blues, berdampak positif bagi klub yang untuk sementara memimpin klasmen premier league. Sehingga tak jadi masalah jumlah uang yang keluar jika hasilnya sesuai dengan ekspektasi. Namun 50 juta pondsterling keluar untuk mendatangkan Fernando Torres dari Liverpool, sedikit pun tidak berdampak bagus baik untuk tim dan karir si pemain sendiri.

Perlu diamati peran Bale sebagai pemain termahal dunia, setelah sukses memenangi La Decima bagi Madrid apakah si pemain akan tetap konsisten bisa memberi kemenangan dan gelar bagi tim?

Lalu bagaimana nasib tim medioker yang sedang meroket performanya? Apakah mereka sanggup memagari pemainnya agar tidak hengkang? Atau bahkan tergodakah pemilik klub akan sejumlah uang yang datang menawar pemain vitalnya?

Sportifitas adalah nilai sesungguhnya dari setiap pertandingan ataupun kompetisi. Setelah era finansial, eksistensi sportifitas perlahan namun pasti mulai tergerus. Membuat sepakbola kini Banyak diisi oleh aksi suap menyuap, ilegal transfer, pengaturan skor, dan bentuk lain di luar sportifitas itu sendiri. Tentunya tidak ada tim yang ingin kalah, tapi yang penting saat ini adalah bagaimana menghidupi klub dan mendatangkan keuntangan.

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: