you're reading...
Sosiologi

Manajemen Emosi

IMG_0182.JPG

Dalam ilmu psikologi, emosi merupakan bentuk ekspresi jiwa atas suatu kondisi ataupun kejadian. Sehingga emosi yang keluar dalam bentuk sikap sesungguhnya merupakan hal yang wajar. Tapi terkadang kontrol atas sikap yang timbul dalam letupan jiwa tersebut menjadi penting.

Akibat dari manajemen emosi yang payah maka akan menghasilkan sebuah ciri yang menjadi sebuah kekurangan pribadi atau sifat negatif. Secara general orang tersebut akan disebut sebagai pemarah ataupun temperamen. Meski sesungguhnya, antara temperamen dan pemarah tidak memiliki gambaran yang sama.

Karena temperamen sendiri memiliki pengertian sebagai gejala karakteristik dari sifat emosi individu. Temasuk di dalamnya mudah tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hati, dan identitas suasana hati.

Mereka yang tidak bisa menjaga atau mengelola emosinya, maka akan mudah menyesal lantaran gelap mata dan tidak bisa bersikap sesuai rasio. Hal sepele bisa menjadi hal genting, hal kecil bisa meledak-ledak, dan hal besar akan menjadi sebuah hal yang tidak lagi bisa dibayangkan.

Pada dasarnya mereka yang tidak pandai memagari letupan emosi berawal dari rutinitas keseharian, lingkungan, minim pengalaman, dan kurang bersosialisasi.

Rutinitas hidup yang penuh akan ketegangan (selalu dikejar dateline atau target) membuat seseorang adaptasi akan sebuah kehidupan yang menjadikan waktu adalah uang. Sehingga hidupnya habis untuk “tegang” tanpa bisa menikmati indahnya hidup. Jadi ketika sebuah remeh temeh terjadi, maka hal tersebut tidak akan bisa diterima bagi kelompok ini. Kecepatan reaksi mereka menjadi penyebab tersulutnya emosi. Kebanyakan pribadi dalam kelompok ini bersifat serius dan hampir sedikit ditemukan yang bersifat humoris.

Lingkungan dan minim pengalaman juga berperan dalam kegagalan personal memanajemen emosinya. Lingkungan yang destruktif, dimana mengutamakan penyelesaian atau pengambilan solusi dari setiap masalah berimbas pada adanya yang kuat dan lemah, merupakan tempat subur bagi pembentukan karakter seorang yang pemarah.

Selanjutnya lingkungan yang mengedepankan aspek afektif sebagai ideologi, dimana lebih dominan antara rasa dari pada pikiran cenderung akan menghasilkan pribadi yang sulit menjaga emosinya. Dasar pengambilan sikap yang ditunjukan lebih banyak diwarnai oleh suasana hati ketimbang kecerdasan. Bahasa mudahnya, “tidak mikir” dalam mengambil ataupun menyikapi sebuah kondisi.

Sedangkan minim pengalaman, akan membawa pribadi menyikapi suatu kondisi hanya dari satu sudut pandang dan menganggap realitas yang dihadapi tak ubahnya sebuah bencana. Sehingga naluri untuk mempertahankan hidup atau eksistensi menjadi yang utama. Artinya lebih baik menyerang ketimbang bertahan namun tidak memiliki kesanggupan.

Faktor terakhir yang bisa mengakibatkan kegagalan dalam mengolah emosi adalah kurangnya diri dalam bersosialisasi. Jutaan manusia yang hidup di dunia ini merepukan representatif dari jutaan karakteristik sifat. Meski bisa diteliti dan dibuatkan generalisasinya, namun tetap saja data tersebut baru berguna jika si individu mau bersosialisasi.

Sosialisasi adalah bahasa lain dari mengiklankan diri sendiri kepada orang lain atau kelompok. Sempitnya jaringan sosialisasi yang dijalin, akan membuat kita terkotakan pada sejumlah karakter saja. Sehingga jika terjadi singgungan dengan pribadi unik yang belum pernah ditemui sebelumnya, maka bisa saja emosi akan mudah terbakar seperti halnya api yang dengan cepat menjilati bensin.

Tentu tidaklah ada pribadi yang sempurna, bahkan seorang yang humoris pun bisa saja murka. Ternyata ada resep lain agar kegagalan mengolah emosi tidak terjadi, yakni mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Paling tidak saat syetan berbisik dalam dada yang memaksa kita untuk naik pitam, dengan segera mengingat Nya redalah hasrat kita untuk marah sehingga sanggup untuk menahan diri hingga akhirnya sabar.

Tidak ada suatu apapun yang pantas diutamakan selain mengingat Nya.

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: