you're reading...
Kekuasaan Duniawi

Khusnul Khotimah Cak Nur, Bikin Soeharto Legowo

cak nur

Ada tragedi besar mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia tepatnya pada 17 tahun yang silam. Seorang raja yang berkuasa selama 32 tahun, akhirnya mundur setelah draf buatan Nurcholis Madjid yang diberi judul Khusnul Khotimah diterima oleh Presiden kedua RI Haji Muhammad Soeharto.

Nurcholis Madjid (Cak Nur) rupanya tahu persis bagaimana memperlakukan Soeharto, sehingga sang macan pada akhirnya mau menerima reformasi tersebut. Dalam draf reformasi yang dibuat olehnya, terdapat empat pilihan formula reformasi kepada Soeharto. Pertama, reformasi dalam kerangka sistem Orde Baru seperti yang disampaikan Soeharto di depan pimpinan fraksi d DPR. Kedua, reformasi dalam kerangka sistem yang sama sekali beda dengan sistem Orde Baru. Ketiga, reformasi melalui tahap pergantian kekuasaan politik radikal (kudeta). kemudian yang keempat, reformasi jalan tengah dengan melibatkan tokoh-tokoh reformis untuk kemudian membentuk sebuah lembaga mirip dewan negara.

Sebelumnya, pada 16 Mei 1998 sejumlah tokoh berkumpul mengingat situasi dan kondisi Indonesia yang kian krusial. Hotel Regent, Jakarta dipilih oleh Cak Nur, Utomo Dananjaya, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), Ekky Syahruddin, dan Fahmi Idris untuk mengkonsep draf tersebut untuk kemudian disampaikan kepada Soeharto. Inti dari penyusunan tersebut dimaksudkan untuk meminta sang macan legowo untuk mundur dari puncak kekuasaannya.

Dalam lengser keprabon buatan Cak Nur tersebut, Soeharto-lah pelaku dari khusnul khotimah tersebut. Karya Cak Nur itulah yang membuat Soeharto dengan mudahnya lengser. Pada 17 Mei 1998 naskah Khusnul Khotimah pun dipublikasikan di Hotel Wisata Internasional, Jakarta.

Seperti dalam sebuah buku cerita anak-anak yang mengisahkan sekelompok tikus yang terus-menerus diganggu oleh seekor kucing. Dalam kisah tersebut, para tikus pun meggelar rapat, dan keluarlah keputusan untuk mengalungkan sebuah lonceng di leher sang kucing. Berharap, keberadaan kucing bisa dengan mudah diciri dengan berbunyinya lonceng yang melingkar di leher kucing. Namun, meski solusi sudah didapat, persoalan lain pun muncul, yakni siapa yang bakal mengalungkannya?

Mirip dengan kisah tersebut, Cak Nur dan beberapa tokoh harus menimbang siapa yang tepat untuk diamanatkan memberikan draf Khusnul Khotimah kepada Soeharto. Dalam masa kejayaannya, Soeharto amatlah dominan dan kuat layaknya macan, bakan Soeharto adalah rajanya macan kala itu. Jadi butuh cara-cara diplomasi tingkat tinggi untuk menghadapinya. Menggunakan cara macan untuk melawan rajanya macan bukanlah sebuah pilihan yang tepat.

Walau hanya sekedar menyerahkan surat, para tokoh tersebut tidak melakukan hal gegabah dalam memilih orang yang tepat. Hingga pada akhirnya, pilihan jatuh pada Saadilah Mursyid yang kala itu menjabat menteri sekretaris negara. Barulah susunan Khusnul Khotimah disampaikan kepada Soeharto via Mursyid pada 18 Mei 1998.

Setelah disampaikan, dalam hitungan jam Soeharto lantas memanggil Saadillah Mursyid dan bersedia menjalankan saran untuk mundur. Soeharto pun meminta untuk bertemu dengan orang-orang yang telah menyusun pelengseran khusnul khotimah tersebut. Cak Nur pun dihubungi Soeharto sendiri secara langsung, dengan maksud bersedia untuk mundur. Soeharto pun meminta para tokoh tersebut juga mendampinginya saat dirinya mengumumkan pengunduran dirinya pada esok hari, atau pada 19 Mei 1998.

Dalam jejak rekam yang dimiliki Tempo, kala itu, Cak Nur pun merasa kaget atas keputusan Soeharto yang teramat cepat. Ajakan Soeharto untuk bertemu dengan para tokoh pada keesokan hari itu pun diiyakan oleh Cak Nur. Pengiyaan Cak Nur sendiri hanyalah bersifat untuk memastikan apakah Soeharto bakal benar-benar mengundurkan diri.

Di waktu yang sama, Gedung DPR pada 18 Mei sore, Harmoko selaku kader Golkar dan orang dekat Orde Baru, yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR seolah mengambil jalan aman. Beserta para pimpinan MPR lainnya, Harmoko secara lantang menyebut jika lembaganya yang mewakili rayat Indonesia meminta agar Soeharto segera mundur dari jabatan presiden.

Atas sikap Harmoko tersebut, keluarga Cendana menyebutnya sebagai bantuk pengkhianatan. Wiranto yang kala itu menjabat sebagai Panglima ABRI, pada 18 Mei malam menyebut, apa yang dikatakan Harmoko bukanlah kehendak institusi MPR, melainkan hanya pernyataan personal saja.

19 Mei 1998, sekitar pukul 09.00 WIB sejumlah tokoh nasioal berdatangan menemui Soeharto di Istana Negara. Pertemuan selama dua setengah jam itu membicarakan prosedur lengsernya Soeharto agar tetap berjalan konstitusional, arif, dan tidak malah memperparah kondisi sosial masyarakat saat itu. Mereka yang adir dalam pertemuan tersebut adalah Abdurrahman Wahid, K.H. Ali Yafie, Prof. Malik Fadjar, Yusril Ihza Mahendra, K.H. Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagja, K.H Ma’ruf Amien, Nurcholis Madjid dan Emha Ainun Nadjib.

Dari rentetan cerita lengsernya Soeharto, yang menarik adalah terpasangnya bom kendali jarak jauh sejak 18 Mei malam. Sebanyak 18 titik dipasang di beberapa pom bensin dan 16 lainnya berada di titik tol perbatasan Jakarta dengan kota-kota sekitar. Gedung Graha Purna Yudha telah dipersiapkan untuk diledakan guna memutus jalan Gatot Subroto. Pemasangan bom ataupun peledakan dimaksudkan agar Jakarta sebagai pusat negara dipastikan aman dari sentuhan pihak lain dari luar.

Lebih lanjut, militer bisa bergerak luwes mengambil alih kekuasaan jika terjadi kekosongan pemerintahan. Meski sedang dalam posisi yang riskan, Soeharto masih menggenggam militer di tangannya. Soeharto masih mengkhawatirkan terjadinya kevakuman saat dirinya benar-benar lengser. Pada saat Soeharto menggelar pertemuan dengan para tokoh nasional di Istana Negara, beberapa tank milik TNI Angakatan Darat pun berjaga-jaga disekitaran istana. Diantara beberapa tank, salah satunya memonitor jalannya pertemuan. Dalam tank tersebut beberapa tentara memegang remote kendali peledakan 16 bom.

Ada tiga rumus pendekatan 16 bom bakal diledakan. Pertama, adanya kode dari Soeharto. Kedua, Soeharto diam lebih dari satu menit. Yang ketiga, Soeharto pingsan dalam pertemuan.

Sebagai catatan, 10 menit sebelum pertemuan, Cak Nur dan Cak Nun berjabat tangan membuat “gentlemen agreement”, menyatakan bahwa beliau berdua tidak bersedia masuk institusi apapun dalam pemerintahan yang menggantikan Soeharto. Hal ini semata-mata untuk memberi contoh kepada masyarakat bahwa yang dilakukan bukanlah bertujuan kekuasaan.

Berdasarkan pengakuan Cak Nur, Soeharto dalam pertemuan tersebut sudah menyiapkan draf surat keputusan yang akan ia bacakan pada saat pengumuman pengunduran dirinya sebagai Presiden.

Ternyata pengumuman yang disusun oleh Soeharto berbeda dengan draf “Khusnul Khotimah” yang disampaikan sehari sebelumnya. Sehingga pertemuan pada 19 Mei 1998 yang dalam pertemuan itu juga dikuti oleh Yusril Ihza Mahendra, Cak Nur meminta Yusril untuk mengoreksi draf pengumuman yang disusun oleh Soeharto. Meskipun kemudian Soeharto sudah menyepakat susunan pengumuman yang baru, Soeharto tampak belum 100% ingin melepaskan “mahkota”nya.

Soeharto kemudian mengusulkan untuk membentuk sebuah Komite Reformasi, usulan tersebut disepakati namun Cak Nur memberikan syarat agar 9 tokoh yang terlibat dalam pertemuan 19 Mei 1998 tersebut tidak dilibatkan dalam Komite Reformasi. Syarat tersebut meskipun disetujui oleh Soeharto, tetapi Soeharto menampakkan wajah kekecewaan lantaran Cak Nur menolak terlibat dalam Komite Reformasi.

Kemudian diusulkanlah tiga gagasan kepada Soeharto. Pertama, Soeharto turun beserta para kabinetnya. Kedua, MPR-DPR bubar karena parlemen pada saat itu merupakan hasil dari rezim Orde baru dan ketiga, dibentuknya Komite Reformasi. Komite Reformasi inilah yang nantinya memegang kekuasaan sementara dan segera mengangkat Pejabat Kepala Negara Sementara. Pada saat itu Amien Rais adalah sosok yang dinilai oleh banyak fihak sebagai orang yang paling pantas menduduki jabatan tersebut. Amien Rais adalah orang yang pada hari-hari itu disebut oleh BBC dan CNN sebagai “Mr. President”.

ternyata amien rais gagal jd mr pesident seperti yang diumbar BBC

Cak Nur menyarankan dengan tegas kepada Soeharto agar beliau sendiri yang memimpin Komite Reformasi, dengan asumsi agar proses peralihan kekuasaan diminimalisir tingkat konflik sosialnya.

Seharusnya, saran agar Soeharto yang memimpin Reformasi harus difahami dalam konteks “Khusnul Khatimah”, karena orang yang melakukan banyak kesalahan-kesalahan di masa lalu, dialah orang yang juga bertanggung jawab terhadap Reformasi. Dia harus memulai Reformasi dari dalam dirinya sendiri, kemudian memperbaikinya lalu bertanggung jawab terhadap kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya, membayarkan sesuatu yang harus dibayar, mengembalikan apa yang harus dikembalikan sesuai dengan aturan Agama dan undang-undang yang berlaku.

Pada rancangan awal, Komite Reformasi ini layaknya MPR-S yang bertugas selama enam bulan dengan agenda mengubah undang-undang partai politik dan PEMILU, serta mempersiapkan penyelenggaraan PEMILU. Beberapa tokoh yang terlibat dalam Komite Reformasi ini diantaranya : K.H Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais, Adnan Buyung Nasution, Kwik Kian Gie, YB Mangunwijaya, Akbar Tanjung, Daniel Sparringga, Arbi Sanit, Anas Urbaningrum, AM Fatwa, Joewono Soedarsono, Wiranto, Yusril Ihza Mahendra, serta beberapa rektor Universitas ternama seperti UI, UGM, UNDIP, UNAIR, UNPAD, IPB dan IAIN Syarif Hidayatullah. Total berjumlah 45 orang, dengan komposisi 42 orang Reformis, dan 3 orang dari Orde Baru ( Soeharto, Wiranto dan Akbar Tandjung).

Malam harinya beredar kabar bahwa 14 menteri dalam kabinet pembangunan vii menyatakan mengundurkan diri dari jabatan mereka. Mereka menandatangani sebuah surat yang isinya menolak duduk dalam komite reformasi maupun kabinet baru yang telah di-reshuffle. Surat tersebut ditandatangani di Kantor badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Pada malam itu pula beredar kabar bahwa Amien Rais akan mengerahkan massa esok harinya (20 Me 1998) ke Monas. Long March tersebut pada akhirnya dibatalkan sendiri oleh Amien Rais.

Karena tiga hal berikut Soeharto akhirnya mengambil keputusan untuk mundur. Pertama adalah adanya desakan dari mahasiswa dan amukan rakyat. Kedua, Soeharto gagal membujuk Cak Nur agar mau memimpin Komite Reformasi. Terakhir, Soeharto telah ditinggalkan sebagian besar menterinya yang memilih mengundurkan diri pada malam 20 Mei 1998.

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: