you're reading...
Kekuasaan Duniawi

Kisah Nyeleneh Gusdur Berujung Pelengseran

Duet Pasangan Pemimpin Indonesia diprediksi sebagai yang terbaik

Duet Pasangan Pemimpin Indonesia diprediksi sebagai yang terbaik

Drama lengsernya sebuah pemimpin rupanya bukanlah sebuah hal tabu bagi bangsa ini. Setelah Soeharto yang maha digdaya memimpin Indonesia selama 32 tahun lengser, disusul B.J. Habibie yang hanya selama satu tahun, karma pelengseran pun terus bergelinding hingga menimpa Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid.

Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan presiden pertama Indonesia yang mengawali perjalanan reformasi. Padahal jauh sebelum itu, pihak intelijen ataupun militer masih menginginkan Indonesia di bawah pimpinan Habibie. Tapi segala prediksi dan analisa intelijen tak bisa dipaksakan agar Habibie tetap menjabat.

Adalah Amien Rais tokoh dibalik terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI. Kala itu di bawah bendera Partai Amanat Nasional, Amien sukses membentuk koalisi partai-partai Islam, atau poros tengah, dimana koalisi tersebut juga didukung oleh Golkar. Namun beberapa pihak justru menyebut adalah pengaruh intelijen yang akhirnya mengangkat Gus Dur ke singgasana Istana Negara.

Hingga akhirnya pada 20 Oktober 1999, meski dengan kondisi yang tidak melihat secara fisik, Gus Dur pun dilantik sebagai Presiden RI untuk periode 1999-2004. Mendampingi cucu dari kyai pendiri Nahdhatul Ulama, ialah putri mendiang Presiden RI pertama, Megawati Soekarnoputri.

Banyak pihak menilai Gus Dur-Mega merupakan pasangan pemimpin ideal pasca tumbangnya Sang diktator Jenderal Soeharto. Gus Dur yang merupakan santri tradisional yang kaya akan wawasan kebangsaan, diduetkan dengan Megawati seorang yang nasionalis serta memiliki wawasan keislaman modern.

Setelah delapan hari pasca dilantik sebagai presiden dan wakil presiden, Gus Dur dan Mega langsung melantik para menterinya pada 28 Oktober 1999 dengan nama Kabinet Persatuan Nasional. Selain membentuk kabinet, Presiden K.H. Abdurrahman Wahid juga membentuk Dewan Ekonomi Nasional atau yang disingkat DEN.

DEN dibentuk Gus Dur guna memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia yang belum pulih betul pasca krisis berkepanjangan. Adapun mereka yang dimintai bantuan oleh Gus Dur dalam DEN ialah Prof. Emil Salim selaku ketua dan Subiyakto Cakrawerdaya selaku wakil ketua. Sedangkan sekretaris DEN dipercayakan kepada Dr. Sri Mulyani Indrawati. Adapun nama-nama seperti Anggito Abimanyu, Sri Adiningsih, dan Bambang Subianto hanyalah sebagai anggota.

Dalam memimpin Indonesia, Gus Dur diwarisi banyak persoalan bangsa oleh Orde Baru. Tercatat ada sembilan poin pekerjaan rumah yang difokuskan oleh pemerintahan Gus Dur-Mega. Adalah permasalahan terkait dengan KKN, pemulihan ekonomi, masalah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), kinerja BUMN, pengendalian inflasi, mempertahankan kurs rupiah, masalah jaringan pengaman sosial (JPS), penegakan hukum, dan penegakan HAM.

Kepiawaian dan kepintaran Gus Dur meski dalm kondisi buta patut diacungi jempol. Salah satu yang membuat gempar perpolitikan nasional kala itu ialah saat Gus Dur mengetahui permainan dunia intelijen. Termasuk permainan mengapa Gus Dur bisa menjadi seorang presiden.

Karena terlanjur muak terhadap kinerja intelijen era Soeharto yang mengecewakan, Gus Dur pun memandang intelijen dengan sebelah mata. Gus Dur pun terang-terangan menunjukan ketidakpercayaannya terhadap institusi pengumpul dan pencari informasi tersebut. Langkah arogan pun diambil Gus Dur dengan niatan membubarkan Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang sekarang menjadi Badan Intelijen Negara (BIN).

Langkah kontroversi lain kyai yang juga dikenal akan slogan “Gitu Aja Kok repot”, adalah niatannya yang ingin membubarkan parlemen. Secara keseluruhan, pemerintahan Gus Dur masih jauh dari kata sukses melepaskan diri dari krisis. Pertentangan DPR dengan lembaga kepresidenan pun kian transparan, banyak teguran DPR yang tidak diindahkan presiden.

Hubungan yang kian memanas antara legislatif dan eksekutif yang tak lagi bisa diredakan, memaksa DPR merilis Memorandum I kepada presiden pada tanggal 1 Februari 2001. Tak cukup sekali, Gus Dur pun pada tanggal 30 April 2001 kembali dikirimi Memorandum II oleh DPR.

Bukan malah ngeri atau mengupayakan islah, Gus Dur kian nyeleneh dan berani dengan membalas dua memorandum DPR dengan sebuah dekrit presiden. Tepat pada pukul 01.00 WIB, pada 23 Juli 2001, K.H. Abdurrahman Wahid mengumumkan dekritnya yang berisi sebagai berikut:
1. Membekukan MPR dan DPR Republik Indonesia.
2. Mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dan mengambil tindakan serta menyusun badan-badan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pemilu dalam waktu satu tahun.
3. Menyelamatkan gerakan reformasi total dari hambatan unsur-unsur Orde Baru dengan membekukan Partai Golkar sambil menunggu keputusan Mahkamah Agung.

Sebagai orang yang mengangkat Gus Dur, Amien Rais pun ikut andil untuk menurunkan Gus Dur. Selaku Ketua MPR, Amie Rais menolak keras dekrit presiden tersebut. DPR pun mengipasi MPR agar bisa mempercepat melakukan sidang istimewa. Atas langkahnya sendiri, Gus Dur malah berada di puncak kejatuhannya.

Sidang Istimewa MPR menilai Presiden K.H. Abdurrahman Wahid telah melanggar Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2000, lantaran menetapkan Komjen (pol.) Chaerudin sebagai pemangku sementara jabatan kepala Polri. Sidang Istimewa MPR yang digelar di waktu yang sama saat dekrit diterbitkan, memutuskan untuk memilih Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI menggantikan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid sesuai dengan Ketetapan MPR Nomor III Tahun 2001. Menyusul pada keesokan harinya, Hamzah Haz yang kala itu menjabat Ketua Umum PPP dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Bukan Gus Dur namanya jika tidak nyeleneh, mantan Presiden Republik Indonesia keempat itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong kala menyambut masa pendukungnya di depan Istana Merdeka. Kejadian itu terjadi pada, Senin 23 Juli 2001 malam.

Gus Dur memberikan arahan agar para pendukungnya tidak melakukan tindakan anarkis saat mengetahui pencopotan statusnya sebagai presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Massa yang berkumpul di bagian utara lapangan Monas tepatnya di depan Istana menunggu penjelasan terkait isu pelengseran dirinya sebagai orang nomor satu RI. Akhirnya setelah mendapatkan penjelasan dari Gus Dur massa tersebut membubarkan diri.

Waktu itu situasi berangsur-angsur tak kondusif. Bentrokan massa tidak terhindarkan antara pendukung Gus Dur dan yang menentangnya. Gus Dur pun memilih meninggalkan Istana Negara dengan suka rela.

Hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong, dimaknai Gus Dur bahwa dirinya keluar istana sebagai rakyat biasa. Bukan sebagai presiden atau kyai, dan keluar istana tanpa membawa apa-apa. Gus Dur Gus Dur memilih mundur dari pada pertumpahan darah 1998 terulang lagi. Korban sudah terlalu banyak berjatuhan.

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: