you're reading...
Dari Gelanggang

Konsistensi Juventus dan Pembuktian Dybala

Kemenangan atas Inter di leg I semifinal Coppa Italia menjadi penegas konsistennya Juventus. Kendati demikian, pelatih Bianconeri, Massimiliano Allegri, meminta timnya untuk tetap menjejak bumi.

Bertanding di Juventus Stadium, Kamis (28/1/2016) dini hari WIB, Juventus menang 3-0 atas rival beratnya di tanah Italia itu. Alvaro Morata mencetak sepasang gol, sementara satu gol lainnya dicetak oleh Paulo Dybala.

Allegri membuat beberapa perubahan dalam susunan starting XI-nya. Berbeda dari laga melawan AS Roma akhir pekan lalu, ia tidak memainkan Gianluigi Buffon, Andrea Barzagli, Sami Khedira, Stephan Lichtsteiner, dan mencadangkan Dybala. Penyerang asal Argentina itu baru dimainkan di menit ke-77 –menggantikan Mario Mandzukic– dan mencetak gol enam menit kemudian.

Bagi Juventus, ini adalah kemenangan ke-14 mereka dalam 15 laga terakhir di semua ajang (termasuk Serie A dan Liga Champions). Satu-satunya kekalahan mereka dalam 15 laga terakhir itu didapat ketika menghadapi Sevilla (0-1), Desember 2015.

Kemenangan atas Inter juga menjadi penegas dominasi Juventus atas sang rival. Dalam lima pertemuan sebelum pertandingan dini hari tadi, Juventus menang 2 kali dan bermain imbang 3 kali.

Yang lebih meyakinkan, Juventus –yang di awal musim sempat terseok-seok– kini seperti sudah menemukan formula yang pas untuk tetap melaju. Terbukti, Allegri masih bisa mengotak-atik susunan pemain, namun konsistensi tetap terjaga.

Kendati demikian, sebagai pelatih, Allegri tidak bisa duduk tenang-tenang saja. Ia masih menemukan beberapa kelemahan yang menurutnya harus segera diperbaiki.

“Saat ini, Juventus baik-baik saja. Para pemain tampil bagus,” ujar Allegri seperti dilansir Soccerway.

“Tapi, ini tidak mudah. Kami memang bagus di lini belakang, tapi kami harus memperbaiki cara membangun serangan.”

“Boleh dibilang, saat ini kami cukup puas (dengan performa), tapi masih ada banyak hal untuk diperbaiki,” kata Allegri.

Selain sebagai bentuk penegasan konsitensi permainan, kemenangan Nonya Tua semalam juga dijadikan ajang pembuktian ketajaman Paola Dybala. Masuk lapangan dari bangku cadangan, melalui sentuhan first time-nya Dybala sukses memperdaya Handanovic.

Mungkin, tidak selamanya kita harus membuktikan diri kepada orang lain. Cukup membuktikan kepada diri sendiri saja. Tak terkecuali Paulo Dybala, yang sempat menganggap dirinya sendiri ‘overhyped‘.

Overhyped‘ kalau diterjemahkan kira-kira berarti ‘Terlalu dilebih-lebihkan’. Pada 2014, ketika dirinya baru berusia 20 tahun, namanya mencuat bersama Palermo ketika berhasil mencetak beberapa gol. Bos Palermo yang terkenal nyentrik, Maurizio Zamparini, langsung menaruh harga 42 juta euro untuknya.

Dalam laporan yang dituliskan The Guardian, Dybala merasa dirinya tidak layak dihargai semahal itu. “Harga itu bohong. Tidak banyak pemain bisa dihargai semahal itu dan jelas saya bukan salah satunya,” ucap Dybala ketika itu.

Namun, pada akhirnya Juventus memilih untuk menuruti Zamparini. Mereka membayar 32 juta euro, sementara 8 juta euro sisanya dibayar secara bertahap berdasarkan klausul yang ada.

Mengingat Dybala “hanya” mencetak 13 gol dalam 34 penampilan terakhirnya di liga bersama Palermo, plus hanya mencetak 1 gol dalam tiga bulan terakhir di klub asal Sisilia itu, mahalnya harga Dybala dianggap sebagai sebuah investasi. Juventus jelas berharap bahwa Dybala, yang masih muda, bakal memenuhi potensinya bersama mereka.

Dybala pun tidak langsung nyetel dengan Juventus. Dia tak selalu dimainkan oleh Massimiliano Allegri. Zamparini, yang juga terkenal pedas itu, sempat menilai bahwa Juventus menghancurkan Dybala. Namun, pada akhirnya waktu berkata lain.

Dengan mandeknya Alvaro Morata, Allegri perlahan-lahan mulai mengubah prioritasnya. Menjelang akhir tahun 2015, pada masa di mana performa Juventus mulai menanjak, Allegri sering memercayakan Dybala untuk berduet dengan Mario Mandzukic di lini depan.

Kini, Dybala sudah mencetak 12 gol dalam 20 penampilannya di Serie A –atau 15 gol dalam 30 penampilannya di semua kompetisi. Jumlah itu jelas lebih baik daripada musim terakhirnya di Palermo, di mana ia menorehkan 13 gol dalam 35 penampilan di semua ajang.

Dalam kolomnya di Guardian, Paolo Bandini menyebut bahwa keputusan Allegri untuk tidak langsung memaksa Dybala bermain tiap pekan sudah berbuah manis. Allegri dinilai tidak mau terburu-buru memberi banyak beban kepada Dybala. Pelan-pelan ia mengembangkan Dybala, sama seperti yang dilakukannya pada Morata musim lalu.

Dybala tidak hanya cepat dan tajam, tetapi juga cukup kreatif. Ia tidak hanya membuat gol-gol di laga penting, seperti ketika menghadapi AC Milan dan AS Roma di Serie A, tetapi juga bisa mengkreasikan peluang. Dalam catatan Squawka, pemain asal Argentina itu sudah mengkreasikan 47 peluang di Serie A musim ini, yang mana menjadikannya kreator peluang terbanyak di Juventus sejauh ini –mengungguli Paul Pogba (37 peluang dikreasikan).

Kamis (28/1/2016) dini hari WIB, Dybala kembali menyumbang gol ketika Juventus menundukkan Inter 3-0 di leg I semifinal Coppa Italia. Padahal, kali itu, ia tidak bermain sebagai starter –seperti laga melawan Roma. Enam menit masuk ke lapangan, ia menerima umpan terobosan dari kiri dan melepaskan sepakan first-time dari luar kotak penalti; gol pun tercipta,

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: