you're reading...
Kekuasaan Duniawi

Cukuplah Saja Berteman Denganku

Selain isu reshuffle kabinet, isu yang juga tidak kalah menyedot perhatian publik adalah keputusan Ahok untuk mengikuti Pilkada Jakarta melalui jalur partai politik. Artinya, gagasan untuk maju secara independen gagal terwujud.

Sebenarnya, sejak awal kemunculan Teman Ahok dengan gerakan mengumpulkan KTP untuk Ahok, banyak pihak menduga bahwa Ahok pada akhirnya tetap akan menggunakan jalur partai politik. Hitung-hitungannya sederhana, ongkos politik untuk Pilkada Jakarta itu tidak sedikit. Andai kata Ahok dan Teman Ahok bekerja tanpa melibatkan partai politik, meskipun didukung oleh relawan yang jumlahnya jutaan dan mengumpulkan dana yang banyak, itu tidak akan cukup untuk mengantarkan Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta 2017-2022.

Gerakan People Power saat ini sangat tidak relevan diaplikasikan di Indonesia. Jangankan untuk memakzulkan penguasa, untuk mengantarkan seseorang menjadi penguasa pun tidak mungkin dilakukan dengan gerakan People Power. Kita hidup di dunia kapitalis, bung!

Sesungguhnya tidak sedikit pihak yang teah kehilangan kepercayaan terhadap partai politik. Mengingat, belum pernah ada partai politik di Indonesia dewasa ini yang benar-benar murni tanpa pamrih untuk mendukung seseorang dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah.

Ente pikir partai politik hidup dari mana uangnya? Sudahlah, kita semua sebenarnya juga sudah sangat paham dengan perilaku politik partai-partai yang ada. Jadi, mau Ahok, mau Yusril, mau Risma, mau Sandiaga Uno atau siapapun saja yang ingin maju dalam PILKADA (bukan hanya di Jakarta), ia tetap harus melakukan kontrak politik yang isinya juga transaksi politik terhadap partai-partai yang akan mengusung.

Sistem politik di Indonesia belum mendukung bagi kontestan yang akan maju melalui jalur independen. Belum mendukung. Artinya, suatu saat nanti, entah dengan sistem politik yang baru atau dengan sistem yang ada saat ini, era kandidat independen untuk maju dalam pertarungan politik di arena PILKADA pasti akan ada. Mungkin di beberapa daerah di Indonesia sudah terwujud, tetapi untuk Jakarta belum tepat jika diimplementasikan hari ini.

Gerakan Teman Ahok yang digawangi oleh anak-anak muda sesungguhnya ada nilai positifnya. Teman Ahok mungkin adalah pemantiknya, kelak akan muncul gerakan serupa untuk mendukung seseorang agar maju dalam PILKADA di Indonesia dengan tokoh-tokoh yang baru. Untuk stok orang-orang terbaik di Indonesia, banyak pihak optimis bahwa jumlahnya masih sangat banyak.

Apapun persepsi masyarakat tentang Teman Ahok ataupun Ahok sendiri, mohon agar disikapi dengan kebijaksanaan dalam diri kita masing-masing. Mungkin memang karena kualitas kita saat ini yang kemudian tokoh seperti Ahok yang laku dan didukung oleh banyak orang. Kita tidak usah mengutuk, menggerutu, atau menghakimi orang lain. Setiap orang berhak memiliki pandangannya masing-masing.

Persoalannya adalah bahwa dalam dunia politik, tidak semua dari kita mengetahui siapa sebenarnya tokoh utamanya. Selama ini kita hanya disajikan boneka-boneka yang sudah dipersiapkan oleh para tokoh utama. Jika anda berpikir bahwa Ahok adalah tokoh utama yang berkuasa di Jakarta, mungkin memang informasi yang sampai kepada anda hanya sebatas itu. Orang lain bisa jadi memiliki informasi yang lebih dalam dan lebih jauh dari informasi yang anda miliki. Kepekaan akal dan pikiran anda bisa saja berbeda dengan orang lain. Anda boleh membela Ahok mati-matian, tapi juga anda harus bijak menerima pendapat orang lain yang tidak menyukai Ahok. Fair kan? Ini dinamika kehidupan, ada siang ada malam, ada hitam ada putih.

Sebaiknya gerakan semacam Teman Ahok jangan sampai dimatikan. Tetapi tetap dijaga, hanya saja formulanya perlu diperbaiki. Kita harus mencari bagaimana rumusan atau formula untuk menggalang kekuatan massa yang tidak berorientasi pada materi. Komitmen setiap personal yang bergabung dalam gerakan itu adalah yang kita pegang. Jangan pula ada satupun orang yang ada di dalam gerakan itu yang coba-coba berkhianat. Semuanya harus bersedia untuk berikrar secara kontan kepada Tuhan.

Jika ada satu saja yang berkhianat, maka balasannya langsung ia rasakan saat itu juga. Ikrar seperti ini yang saat ini tidak pernah kita jumpai. Kita seringkali menganggap remeh atas kecurangan-kecurangan yang kita lakukan. Kita seakan-akan menggampangkan kemurahan Tuhan. Bahwa Tuhan Maha Pemaaf, itu sudah pasti. Tetapi apakah iya dengan mudah ketika kita melakukan kesalahan demi kesalahan yang terus menerus, dan mengandalkan ampunan Tuhan? Cara berfikir seperti ini yang juga harus kita perbaiki. Atau jangan-jangan kita saat ini sebenarnya sudah atheis?

Islam adalah agama yang paling benar, tentu saja teladan kepemimpinannya adalah Rasulullah SAW. Ada empat sifat wajib bagi Rasul yang dianugerahkan oleh Allah yakni, Siddhiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Seandainya, keempat sifat itu ada dalam diri seseorang, sudah cukup menjadi alasan bagi siapapun untuk mendukungnya. Bahkan tak perlu lagi untuk dikompromikan untuk mendukungnya.

Jika kurang satu saja sifat tersebut dari dalam diri seseorang, maka sebut saja orang tersebut tidak layak untuk menjadi pemimpin. Apakah susah menemukan orang yang memiliki 4 sifat tersebut. Mungkin susah, tapi masa iya dari jutaan anusia yang ada tidak bisa menemukan sosok yang demikian. Prosentasenya mungkin minoritas, tetapi yah tetap ada.

Semua kembali ke dalam diri kita masing-masing. Pemimpin yang kita miliki saat ini adalah cerminan kita hari ini. Mungkin memang Allah merasa belum saatnya kita dipimpin oleh orang-orang terbaik. Mungkin saja Allah ingin kita mengambil pelajaran sebanyak-banyaknya dari apa yang kita alami hari ini untuk menjadi hikmah dan bekal bagi generasi selanjutnya. Pada akhirnya anda punya kehendak, saya punya kehendak, kita semua punya kehendak. Tetapi yakinlah, sebenarnya yang berlaku adalah kehendak Allah.

Maka, keputusan Ahok yang pada akhirnya memilih menggunakan jalur partai politik dalam arena pertarungan PILKADA JAKARTA, sesungguhnya bukanlah hal yang mengherankan. Karena memang hal itu sangat mudah diprediksi, bahkan oleh orang yang awam dalam hal politik sekalipun. Jadi, Teman Ahok, kita cukup berteman saja ya. Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh Ahok.

Sumber (http://www.fahmiagustian.com/)

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: