you're reading...
Kekuasaan Duniawi

Sejak Kabinet Sjahrir Hingga Jokowi, Selalu Ada DNA Cirebon

Rabu 27 Juli 2016, Presiden Joko Widodo untuk kedua kalinya merombak susunan menteri dalam Kabinet Kerja. Hasilnya, nama Sri Mulyani serta Wiranto masuk ke dalam Kabinet Kerja, sedangkan Rizal Ramli justru mengalami pencopotan sebagai Menko Kemaritiman.

Namun, dari drama reshuffle yang telah terjadi beberapa jam yang lalu, percaya atau tidak bahwa putra daerah asli Kota Cirebon kerap muncul di setiap kabinet pemerintahan.

Hampir di setiap periode dan rezim, ada saja menteri yang berasal dari daerah yang terkenal akan kerupuk udangnya tersebut. Bahkan, perwakilan petra terbaik Cirebon sudah ada di kabinet sejak awal mulau Indonesia berdiri sebagai bangsa dan negara.

Khusus di Kabinet Kerja, hampir saja perwakilan Cirebon hilang saat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN RB) Yuddy Chrisnandi dicopot dari jabatannya yang kemudian digantikan oleh Asman Abnur.

Namun, Enggartiasto Lukita menjadi pengganti duta Cirebon saat dirinya dipercaya Jokowi untuk mengisi pos di Kementerian Perdagangan menggantikan Thomas Lembong yang digeser sebagai kepala BKPM.

Lantas, siapa sajakah menteri-menteri asal Cirebon yang kerap mengisi kursi menteri di setiap rezim pemerintahan?

Dr Soedarsono (Menteri Era Kemerdekaan – Rezim Sjahrir)

Soedarsono merupakan putra daerah asli Cirebon, salah satu tokoh politik sekaligus pejuang nasional di bawah garis kaderisasi Sutan Syahrir (Perdana Menteri Pertama RI). Saat Jepang menyerah kepada sekutu pada 14-15 Agustus 1945, Dr Soedarsono membacakan teks proklamasi pertama kali sebelum Soekarno pada 15 Agustus di Alun-alun Kejaksan. Momentum tersebut diabadikan dengan adanya tugu proklamasi berbendul pensil di depan alun-alun Kejaksaan Kota Cirebon. Pendiri Rumah Sakit Gunung Jati (RSGJ) itu kemudian menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Sjahrir I, Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Sjahrir II, dan Menteri Negara dalam Kabinet Sjahrir III.

Prof AM saefuddin (Menteri Era Orde Baru atau Rezim Soeharto)

Profesor AM Saefuddin atau Ahmad Muflih Saefuddin, lahir di Desa Kudukeras, Cirebon Timur, 8 Agustus 1940, adalah mantan Menteri Negara Pangan dan Holtikultura Republik Indonesia. Tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di Bogor, Jawa Barat. AM Saefuddin juga dikenal sebagai sosok akademisi yang mengabdikan diri pada sejumlah lembaga, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Ibnu Khaldun serta Universitas Djuanda.

Sejak 1962 hingga 1995, Prof AM Saefuddin tercatat sebagai staf pengajar IPB. Pada 1983-1986 ia dipercaya menjadi rektor Universitas Ibnu Khaldun, Bogor, dan sejak 2000 dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Djuanda, Bogor. AM Saefuddin merupakan sosok tokoh yang memiliki visi kuat perjuangan keislaman. Salah satu andilnya adalah mengembangan budaya Islamisasi Sains dan kampus saat menjabat sebagai rektor UIKA Bogor, 1983-1986.

Prof Dr Ir Zuhal MSC EE (Menteri Era Reformasi – Rezim Gus Dur)

Prof Zuhal merupakan seorang akademisi yang sangat berpengaruh di Indonesia. Pria yang lahir di Cirebon, 5 Mei 1941 itu merupakan guru besar Teknik Elektro ITB dan Universitas Indonesia (UI). Pendidikan tingginya ditempuh di ITB, University of Southern California, dan University of Tokyo.

Di bidang Riset dan Pengembangan Teknologi, ia pernah menjabat Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Ketua Dewan Riset Nasional (DRN). Di bidang korporat, ia pernah bertugas menjadi Direktur Utama (CEO) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), saat terjadi krisis listrik tahun 1992–1995. Sedangkan sebagai Pejabat Negara, ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek) pada Kabinet Reformasi, setelah sebelumnya pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Listrik dan Pengembangan Energi.

Dengan pengalamannya berkiprah di ranah akademis, bisnis, dan pemerintahan (triple helix) itu,ia merupakan salah seorang pendorong kuat terwujudnya Sistem Inovasi Nasional (SINAS) di Indonesia. Ia adalah mantan Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) dan mantan Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN). Zuhal adalah Guru Besar Elektroteknik pada Fakultas Teknik, Universitas Indonesia (FT-UI).

Dr Juwono Sudarsono (Menteri di era rezim lima presiden)

Dr Juwono Sudarsono memiliki benih dari ayahandanya yang juga merupakan pejuang asal Cirebon, sekaligus mantan menteri (Dr Soedarsono). Juwono Sudarsono merupakan satu-satunya menteri yang bertahan di era lima presiden. Mulai dari Soeharto, Habiebie, Gus Dur, Megawati, hingga SBY. Bahkan, Juwono pun merupakan warga sipil pertama yang menjadi Menteri Pertahanan.

Ia mendapatkan gelar kesarjanaan dari Universitas Indonesia dan selanjutnya gelar Ph D dari London School of Economics and Political Science. Dalam Kabinet Reformasi Nasional, semasa pemerintahan Presiden BJ Habibie, Juwono Sudarsono menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional. Kemudian Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memberinya kepercayaan sebagai Menteri Pertahanan (1999-2000). Selanjutnya diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Inggris hingga tahun 2004. Barulah pada, 21 Oktober 2004, dirinya dilantik kembali sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Indonesia Bersatu di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sampai 2009.

Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri (Menteri di Kabinet Gotong Royong – Rezim Gus Dur dan Megawati)

Rokhmin Dahuri dibesarkan di Cirebon, tepatnya di Gebang, Kabupaten Cirebon. Rokhmin Dahuri merupakan Menteri Kelautan dan Perikanan pada Kabinet Gotong Royong era Presiden Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri. Ia meraih gelar sarjana pada tahun 1982 dari Fakultas Perikanan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan gelar doktor dari School for Resources and Environmental Studies Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Kanada pada tahun 1991.

Aktivitas masa kanak-kanaknya sampai sekarang selalu penuh dengan urusan laut dan ikan. Maka, sebagai anak nelayan, perhatian Rokhmin terhadap nelayan dan lautan amat besar. Wajar bila sejak kecil ia pun bertekad membangun bidang kelautan dan perikanan.

Dr Helmy Faishal Zaini (Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II – Rezim SBY)

Helmy Faishal Zaini merupakan putra daerah asli Cirebon, yaitu Cirebon Timur, Desa Babakan Gebang, Kabupaten Cirebon. Ia adalah seorang politisi Indonesia yang menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal pada Kabinet Indonesia Bersatu II zaman SBY. Ia berhenti dari kursi menteri setelah terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019. Selain itu, ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada periode 2004-2009 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Saat ini ia menjabat sebagai anggota DPR RI, dan merupakan orang yang berpengaruh di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Semenjak ia terpilih menjadi Sekjend PBNU ia melepaskan jabatannya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Helmy Faishal Zaini menyelesaikan studi sarjana strata satu di Universitas Darul Ulum Jombang, jurusan Teknik Sipil, kemudian melanjutkan pendidikan untuk memperoleh gelar Magister di Universitas Paramadina, Jakarta. Perjalanan semasa kuliah inilah yang membawa Helmy menjadi aktivis organisasi, mulai dari area pengayaan wacana di bidang jurnalistik sampai tingkat demonstrasi yang memacu adrenalin pada tahun 1996.

Dr Yuddy Chrisnandi (Menteri Kabinet Kerja – Rezim Jokowi)

Yuddy Chrisnandi merupakan alumnus dari SMAN 1 Kota Cirebon. Ia menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada Kabinet Kerja (2014–2019). Sebagai politikus, ia pernah menjabat sebagai anggota DPR pada periode 2004–2009 dari Partai Golongan Karya dan periode 2009–2014 dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Awal tahun 2016, Yuddy merilis kinerja akuntabilitas kementerian dan lembaga-lembaga negara. Sejumlah kementerian diberi nilai dan diberi peringkat. Ada yang mendapat nilai tertinggi seperti Kementerian Keuangan. Akan tetapi, ada juga yang mendapat nilai paling rendah, yakni Kejaksaan Agung. Yuddy mengatakan, dapat diketahui sejauh mana tingkat akuntabilitas atau pertanggungjawaban atas hasil penggunaan anggaran.

Namun sejumlah politisi mengatakan bahwa Yuddy telah melakukan kegaduhan politik di dalam Kabinet Kerja karena merilis penilaian rendah kinerja menteri.

Enggartiasto Lukita (Menteri Kabinet Kerja – Rezim Jokowi)

Enggartiasto Lukita lahir di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1951. Menyelesaikan pendidikannya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia). Sejak usia muda sudah mengakrabi dunia organisasi. Tercatat, dia pernah meimpin beberapa organisasi berinduk nasional antara lain Real Estate Indonesia (REI).

Ia mengawali debutnya di bidang politik saat bergabung di Partai Golongan Karya sebagai wakil bendahara umum. Melalui partai ini pula dia terpilih sebagai anggota DPR RI untuk dua periode, 1997-1999 dan 2004-2009. Namun sejak tahun 2013 Enggartiasto Lukita memutuskan masuk di partai baru, Partai NasDem. Di partai ini, Enggar dipercaya menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri. Pada Pemilu 2014, kembali terpilih sebagai anggota DPR RI. Di dunia usaha, Enggartiasto Lukita menekuni bidang properti dan menjabat beberapa perusahaan antara lain sebagai Komisaris Utama PT Unicora Agung, Dirut PT Kartika Karisma Indah, Dirut PT Kemang Pratama, Dirut PT Bangun Tjipta Pratama, dan Direktur PT Supradinakarya Multijaya (1994-2004).

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: