you're reading...
Kekuasaan Duniawi

Senyuman Megawati Perdalam Misteri Calon PDIP di Pilgub DKI

Sebagai partai dengan jumlah kursi terbanyak di DPRD DKI Jakarta, rupanya tak otomatis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bisa dengan mudah mengusung pasangan calonnya sendiri. Padahal, hanya PDIP saja satu-satunya partai politik yang tanpa berkoalisi bisa mengusung calon.

Komunikasi atau pun ‘deal-deal’ politik yang mentok dengan calon petahana basuki Tjahaja Purnama (Ahok), membuat PDIP dihantui kegagalan dalam memenangkan Pilkada Jakarta. Terlebih, kini Ahok sudah dibajak tiga partai politik (NasDem, Hanura, Golkar) yang telah menyatakan dukungan resmi.

Meski masih terbuka peluang bagi PDIP untuk bergabung bersama NasDem, Hanura dan Golkar untuk berkoalisi bersama demi memenangkan Ahok, namun penyataan atau sikap resmi moncong putih belum juga terlihat. Sedari itu, hingga detik ini PDIP masih belum mengumumkan siapa pasanagn calon yang bakal didukung ataupun diusung.

Namun sang calon petahana beberapa waktu lalu justru menyatakan bahwa dirinya telah mendapat dukungan atau pun restu dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Hal tersebut dipredikasi banyak pihak bahwa PDIP akan mendukung Ahok dalam PIlgub DKI mendatang.

Arah PDIP bakal mendukung Ahok sepertinya hanya soal menununggu momen yang pas. Hal itu terlihat dari pernyataan Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno yang menyebut, pendeklarasian dukungan calon sesungguhnya hanya tinggal perkara waktu.

“Untuk sampai saat ini, konstelasi saat ini kita lebih berat ke petahana, karena kinerja berkorelasi dengan aspirasi masyarakat,” kata Hendrawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (22/8).

Sinyal-sinyal positif PDIP bakal ke Ahok rupanya tak berjalan mulus. Internal PDIP justru terbelah tentang dukungan kepada Ahok. Kader banteng saling berbeda sudut pandang. Perbedaan soal Ahok di internal PDIP dipertegas Ketua DPP bidang Politik PDIP Andreas Hugo yang menyebut, jika ingin mengantongi dukungan partai moncong putih, Ahok seharusnya sebagai cawagub.

“Kalau menurut kalkulator politik, seharusnya Pak Ahok jadi wakil. Kalau dia punya 23 kursi, kita punya 28 kursi lebih banyak dong,” ucapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (23/8).

Dalam sebuah kesempatan, awak media yang berhadap-hadapan dengan Megawtai sempat melemparkan pertanyaan mengenai sosok mana yang bakal dipilih PDIP dalam Pilgub DKI. Tentu ilihannya mengerucut pada nama Risma dan Ahok.

Tapi sayangnya Mega tak bersuara sedikitpun saat dijumpai wartawan dalam acara pameran Arsip Nasional di Sarinah, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Mega yang terkenal senyap dan dikit bersuara kepada media hanya melemparkan senyum saat pertanyaan pilih Ahok atau Risma dilontarkan. Hanya senyuman saja yang dapat diabadikan awak media, mengingat putri Bung Karno itu langsung menuju mobilnya dan meninggalkan keramaian wartawan.

Menariknya, organisasi sayap PDIP, Repdem tampil di hadapan publik untuk angkat bicara soal Pilgub DKI, khususnya peluang PDIP mendukung Ahok. Ternyata, Repdem menolak keras jika PDIP tetap mendukung Ahok.

“Bahwa Jakarta selama dipimpin Ahok kerap mengeluarkan kebijakan yang menyakiti rakyat kecil. Beda Ahok dengan Jokowi yang mampu melakukan pedekatan dengan masyarakat,” demikian kata Ketua Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Repdem Wanto Sugito dalam pernyataan tertulisnya, Jakarta, Rabu (24/8).

Repdem lebih senang jika PDIP mengusung kader sendiri yang telah teruji. Pilihannya adalah Tri Rismaharini (Risma) ataupun Djarot Saiful Hidayat.

“Ada Pak Djarot Saiful dan Ibu Risma. Jadi Ahok harus tumbang,” ucap Sugito melanjutkan.

Hampir bersamaan dengan pernyataan itu, Majelis Pelayan Jakarta (MPJ) juga menawarkan nama Risma kepada cagub Gerindra Sandiaga Uno. MPJ menyarankan agar Sandiaga bersedia jadi cawagub untuk Risma.

“MPJ menegaskan dukungannya kepada SSU (Sandiaga Salahudin Uno) sebagai kandidat gubernur atau wakil gubernur. Sambil MPJ menyuarakan pasangan alternatif terbaik untuk mengalahkan petahana. Pasangan alternatif terbaik yaitu Risma-SSU,” demikian keterangan MPJ.

Teka-teki rupanya masih terus bergulir terkait siapa bakal calon yang diusung PDIP. Jika benar Megawati telah memberikan restunya kepada Ahok, maka seharusnya internal PDIP satu suara tentang hal itu. Namun yang tergambar justru sebaliknya, sinyal Mega ke Ahok justru ditentang para bawahannya.

Amat beresiko bagi PDIP jika dalam Pilgub DKI mendatang kondisi partai menjadi tak solid. Mengingat, selang dua tahun pemilihan kepala daerah Jakarta, tepatanya 2019, PDIP dan seluruh parpol lainnya akan menghadapi Pileg dan Pilpres secara bersamaan. Prestasi Pemilu 2014 PDIP sebagai pemenang tak boleh menguap, jika tak ingin bernasib sama seperti halnya Demokrat. Terlebih kini, Golkar selangkah di depan PDIP dengan lebih dulu memutuskan mendukung Joko Widodo sebagai capres dalma Pilpres 2019.

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: