you're reading...
Khas Syukronachmad

Mengapa Agus Jadi Lawan Terberat Ahok, Bukan Anies?

Jelang masa pencoblosan, elektabilitas Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murnirupanya lebih baik ketimbang Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Kesukaan publik terhadap Agus-Sylvi pun sanggup mengalahkan hegemoni calon petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

Hal tersebut diungkap oleh sebuah hasil survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research Center (SMRC). Saat mencoba mensimulasi, jika Pilkada Jakarta mempertarungkan antara Agus-Sylvi melawan Anies-Sandi, dari total 648 respon sebanyak 37,2 persen memilih Agus. Sedangkan sisanya sebanyak 34,0 persen memilih Anies-Sandi. Sedangkan sisa persentasi lainnya memilih sikap rahasia ataupun tidak tahu.

Meski sama-sama menyandang status sebagai penantang dari calon petahana Ahok-Djarot, pasangan nomor urut satu rupanya lebih digdaya ketibang Anies-Sandi. Bahkan sejumlah pihak berani menyimpulkan bahwa Pilkada DKI 2017 mendatang sesungguhnya adalah pertarungan antara Agus-Sylvi melawan Ahok-Djarot. Mengingat, hampir di setiap hasil lembaga survei memaparkan pasangan nomor urut tiga kerap berada di urutan paling bawah.

Direktur Program SMRC Sirojudin Abbas menyatakan, sebelumnya banyak pihak tak pernah menyinggung kompetisi antara Agus dan Anies. Hanya menyebutkan bahwa elektabilitas Agus terus meningkat.

Hadirnya Agus dan Anies dalam Pilkada DKI Jakarta, di luar tentunya nama Ahok, sesungguhnya ketiganya adalah pesaing. Sayangnya, kompetisi layaknya sepak bola gajah, yang mana baik Agus maupun Anies kurang menunjukan daya berkompetisi. Kedua pihak seolah hanya bertarung berebut suara dari mereka yang tak menghendaki Ahok terpilih kembali sebagai gubernur DKI Jakarta.

Terlebih, calon petahana terus dirundung masalah pelanggaran hukum terkait penistaan agama yang terbukti menghancurkan elektabilitasnnya. Bahkan, walaupun pada akhirnya memenangkan pemilihan rasanya seperti kemustahilan Ahok bisa kembali duduk di singgasana DKI I.

Adalah pasangan nomor urut satu yang rupanya banyak kelimpahan durian runtuh atas kasus Ahok. Setidaknya hingga hari ini elektabilitas Agus di atas Anies bahkan Ahok sekalipun.

Sirojudin menyebut, tampilan fisik Agus dan faktor SBY membuatnya bisa menjadi lebih tinggi ketimbang Anies.

“Sebelumnya enggak pernah disebut-sebut, langsung tinggi. Yang paling banyak tentu saja faktor bapaknya. Kemudian yang diidentifikasi masyarakat soal gantengnya,” kata Sirojudin di Hotel Pan Pacific, Jakarta Pusat, Kamis (20/12).

Hal serupa juga disampaikan oleh Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsudin Harris bahwa penyebab elektabilitas Agus lebih tinggi daripada Anies, yaitu karena faktor Susilo Bambang Yudhoyono, ketampanan, dan paparan media yang lebih besar ketimbang Anies.

“Kalau saya melihat media, baik konvensional maupun online dan media sosial, Agus lebih banyak tampil ketimbang Anies,” kata Syamsudin.

Terbaru, Litbang Kompas merilis hasil temuannya tekait elektabilitas ketiga calon kandidat Pilgub DKI Jakarta yang hasilnya mendudukan Agus-Sylvi di peringkat pertama dengan 37,1 persen dan Anies-Sandi hanya 19,5 persen. Adapun posisi Ahok-Djarot berada diurutan kedua dengan 33 persen.

Survei Litbang Kompas sendiri dilakukan pada 7-15 Desember 2016. yang mana penelitian menggunakan teknik tatap maku terhadap 800 responden dengan mekanisme acak yang tersebar di enam kota/kabupaten di Jakarta. Jumlah responden di setiap wilayah ditetapkan secara proporsional.

Survei dilakukan menggunakan metode pencuplikan sistematis dari daftar pemilih sementara (DPS) DKI Jakarta. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan margin error plus minus 3,46 persen.

Libang Kompas dalam penelitiannya memasukan poin pemilih loyal. Pada segmen ini, pemilih loyal untuk Agus-Sylvi sekitar 55,9 persen dan Anies-Sandi 54,5 persen. Menariknya, pada segmen kemungkinan berupah pilihan, responden paling tinggi justru ada pada pemilih Anies-Sandi sebesar 25,3 persen. Sedangkan pemilih Agus-Sylvi hanya 21,9 persen.

Meski begitu, Litbang Kompas menemukan kesimpulan dalam penelitiannya bahwa suara ketiga kandidat belum mencukupi untuk menang mutlak atau mengemas suara 50 persen plus satu. Artinya, Pilkada DKI bakal menggelar babak tambahan hingga ke putaran kedua.

Setidaknya 61 hari tersisa sebelum warga Jakarta menuju TPS masing-masing untuk memberikan suara, persentasi elektabilitas masih sangat mungkin berubah. Persaingan memperebutkan kursi DKI I harusnya bisa semakin menarik yang belakangan total tertutup oleh aksi penolakan terhadap Ahok dan juga masalah hukum yang menjeratnya.

Advertisements

About syukronachmad

iam a journalis, i love Juventus Football Club, iam aMoslem, and iam Nasionalism

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: